(nyadran)https://id.wikipedia.org/wiki/Nyadran
Nyadran
Pelaksanaan
Nyadran merupakan salah satu tradisi dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.[4] Kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran, Sadranan atau Ruwahan adalah:
- Menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.[1]
- Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan.[1]
- Melakukan upacara ziarah kubur, dengan mendoakan keluarga atau kerabat dan para leluhur terdahulu yang telah meninggal di area makam.[1]
Nyadran biasanya dilaksanakan pada setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya'ban.[4] Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga
Sejarah
Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha.[1] Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima.[2] Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam yang dinilai musyrik.[1] Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa.[1] Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.
tradisi masyarakat Jawa, terutama di Jateng/DIY, berupa ziarah makam leluhur, pembersihan makam (besik), dan doa bersama (kenduri) yang dilakukan pada bulan Ruwah (Sya'ban) untuk menyambut Ramadhan. Tradisi ini merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam yang menekankan gotong royong, silaturahmi, dan penghormatan kepada leluhur.
(Denis nova) sangat bagus dan saya menjadi tahu
ReplyDeletegendut edan
ReplyDeleteyando nyadran
ReplyDelete